Google search

Custom Search

Translate

Saturday, 30 April 2016

Endodontic

Perawatan Saluran Akar Gigi

Kembalikan Fungsi Kunyah dan Estetis

Rasa nyeri berdenyut gara-gara peradangan atau infeksi yang sudah mencapai saraf gigi bisa diatasi dengan perawatan saluran akar. Perawatan yang juga disebut endodontic itu mampu mempertahankan fungsi gigi. Seperti apa?
PERAWATAN endodontic dilakukan untuk membersihkan saluran akar atau kamar pulpa yang sudah terinfeksi. Penyebab awalnya adalah gigi berlubang yang dibiarkan hingga mencapai saraf gigi. Dokter gigi Dinda Laras menerangkan indikasi untuk perawatan saluran akar. Ada tiga macam.
Pertama, pulpitis, yakni peradangan atau infeksi pada pulpa (rongga di bawah lapisan dentin) gara-gara gigi berlubang, fraktur gigi, atau penyebab lain yang memungkinkan terjadinya infeksi oleh bakteri. Ditandai dengan sakit berdenyut yang menghebat saat malam serta spontan, tidak harus didahului kontak dengan dingin, panas, atau manis.
Kedua, nekrosisi pulpa. Yakni, peradangan pulpa sudah berlanjut sehingga mengakibatkan jaringan saraf mati. “Pada kondisi ini, pasien tidak merasakan sakit, tidak ada bengkak. Alhasil, sering kali didiamkan,” ujar Dinda saat ditemui di ruang kerjanya, Melisa Dental Care, Thamrin Residence, Jakarta, Selasa (8/12).
Berikutnya, lesi periapikal. Yaitu, infeksi sudah menyebar ke bawah akar. Keluhan sering kali hanya muncul saat menggigit sesuatu yang keras. Kemudian, muncul bengkak. Biasanya, pada saat itu penderita baru datang ke dokter gigi.
Setelah dokter memeriksa dan mengidinkasikan perlunya perawatan saluran akar, pasien akan melalui beberapa tahapan. Jumlah tahapan bervariasi, mulai satu hingga lima kali visit, bergantung tingkat kesulitan serta bagian gigi yang perlu dirawat. Gigi depan hanya memiliki satu saluran akar, gigi belakang untuk geraham kecil punya dua saluran akar, sedangkan geraham besar bisa memiliki tiga hingga empat saluran akar. Ada pula kasus saluran akar yang bengkok atau tersumbat sehingga tingkat kesulitan lebih tinggi. Biasanya, kasus-kasus yang lebih spesifik dikerjakan oleh spesialis konversi gigi.

Perawatan saluran akar paling sering dilakukan pada gigi geraham 1. Sebab, gigi tersebut merupakan gigi permanen pertama yang tumbuh dalam mulut. “Usianya paling tua dalam rongga mulut. Ceruknya juga lebih dalam disbanding geraham 2,” ujar drg Dinda.
Tahapan perawatan itu dimulai dengan preparasi atau membuka akses menuju pulpa, mempersiapkan saluran akar, serta mengisi saluran akar. Setelah perawatan saluran akar selesai, tahapan dilanjutkan dengan restorasi atau tambahan tetap untuk menutup gigi yang berlubang. “Tujuan perawatan saluran akar adalah mempertahankan gigi supaya bisa berfungsi dengan baik tanpa perlu dicabut,” tutur alumnus program  profesi FKG Universitas Indonesia tersebut.
Setelah perawatan saluran akar dilakukan, sensitivitas gigi pada bagian yang di-treatment  akan hilang, tidak lagi merasakan sensasi dingin atau panas. Tetapi, itu hanya bagian kecil. Sebab, dengan perawatan saluran akar, fungsi mengunyah dan estetis gigi kembali optimal. Begitu juga fungsi fonetis (pelengkap berbicara) gigi depan.
Tingkat keberhasilan perawatan saluran akar mencapai 96 persen. Tak ada pantangan setelah itu. Pasien bisa kembali leluasa menyantap makanan kesukaan. Kuncinya, menjaga kebersihan gigi dan rongga mulut dengan teknik menyikat gigi yang benar minimal dua kali dalam sehari, yaitu pagi setelah sarapan serta malam sebelum tidur. Juga, rutin cek kesehatan gigi enam bulan sekali. (nor/c11/jan)


Bahaya Penjalaran Infeksi

                SERING kali orang baru datang ke dokter gigi ketika sudah tidak mampu menahan rasa sakit yang menyiksa. Padahal, masalah gigi dan rongga mulut, sekecil apa pun, tidak boleh diabaikan. Jangan sampai terlambat diatasi.
Bila tidak dirawat, gigi tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Tapi, kerugiannya bukan hanya itu. Bahaya yang lebih besar adalah penjalaran infeksi. Gigi merupakan jaringan keras. Di sekitar gigi terdapat tulang (yang masih jaringan keras). Kemudian, ada jaringan lunak (gusi). Infeksi yang awalnya hanya terjadi pada gigi jika merambat ke gusi bisa mengakibatkan gusi membengkak. “Bila dibiarkan lagi, infeksi bisa meluas ke rongga-rongga di sekitarnya. Kondisi ekstremnya bahkan, sampai mengganggu organ pernapasan. Si pasien sampai tidak bisa bernapas hingga berisiko kematian,” papar drg Dinda Laras.
Perawatan saluran akar bisa dilakukan pada gigi sulung maupun permanen. Jadi, perawatan itu juga bisa diterapkan terhadap pasien anak. Apalagi, pada anak, penjalaran infeksi lebih cepat jika dibandingkan dengan orang dewasa.
Namun, ada beberapa kondisi harus dipertimbangkan untuk menentukan apakah treatment-nya merupakan perawatan saluran akar atau gigi dicabut. Mengingat, gigi anak masih merupakan gigi sulung dan akan berganti menjadi gigi permanen. Yaitu, apakah gigi goyang atau masih kukuh. Bila sudah sangat goyang, tidak dilakukan perawatan saluran akar.
Kedua, dilihat akarnya apakah masih panjang atau pendek. Ketiga, apakah benih gigi permanen sudah akan tumbuh. “Kalau akarnya sudah dekat, gigi dicabut. Kalau masih jauh, bisa dilakukakan perawatan saluran akar,” tutur Dinda yang pernah merawat saluran akar pada anak berusia 6 tahun itu. (nor/c22/jan)
Sumber: Jawa Pos, 11 Desember 2015
gambar: https://pixabay.com/id/orthodontist-dokter-gigi-kawat-gigi-287285/


No comments:

Post a Comment