Google search

Custom Search

Translate

Saturday, 2 April 2016

overcome asthma in children

Atasi Asma pada Anak

Kontrol agar Tidak Kambuh



Asma tergolong penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Yang dapat dilakukan adalah mengontrolnya agar buah hati tidak sering terserang.
ASMA merupakan gangguan pernapasan karena inflamasi atau pembengkakan pada saluran napas. Pembengkakan itu disertai dengan produksi lendir yang berlebihan sehingga saluran pernapasan menyempit. Akhirnya, proses pernapasan terganggu. “Yang paling sering terdengar adalah bunyi mengi saat anak bernapas,” ujar dr Zahrah Hikmah SpA, spesialis anak dari RSUD dr Soetomo, Surabaya.
Penyebab asma umumnya adalah alergi. Jika seorang anak memiliki riwayat keluarga yang terkena alergi, peluang terkena asma bisa jadi makin besar. Karena allergen atau pemicu alergi bisa terdapat di mana-mana, asma dapat terjadi sewaktu-waktu. Ada beberapa hal yang dikenal sebagai allergen asma, yakni makanan, bulu hewan, atau tungau debu rumah.
Menurut dr Retno Asih Setyoningrum SpA (K), konsultan penyakit anak RSUD dr Soetomo, jenis allergen lain pun ada. Misalnya, asap rokok atau asap kendaraan. Beberapa hal selain allergen yang bisa memicu asma adalah aktivitas fisik yang berat ataupun perubahan cuaca.
Gejala awal asma pada anak-anak umumnya ditandai dengan batuk berdahak sebagai akibat peningkatan produksi lendir. Setelah beberapa lama, lendir kian mempersempit diameter saluran napas yang sudah membengkak.


Dalam menangani, orang tua harus tahu dua aspek asma. Yakni, aspek akut dan kronis. Aspek akut berkaitan dengan intensitas atau tingkat keparahan asma yang diderita anak. Aspek kronis adalah seberapa sering si anak menderita asma.
Aspek akut asma dikaitkan dengan intensitas serangan asma. Pada level yang parah, anak akan mengalami sesak hebat disertai batuk berdahak dengan intensitas berat. Suara mengi pun tergolong parah. Jika sudah demikian, orang tua sebaiknya membawa anak ke dokter.
Aspek kronis atau keseringan mengidap asma dibagi menjadi tiga: jarang, seing, dan persisten. Pada status jarang, asma hanya menyerang beberapa bulan atau tahun sekali. Lalu, status sering ditandai dengan menderita asma yang frekuensinya lebih intens. Misalnya, sebulan sekali. “Yang persisten hampir setiap saat terkena asma,” jelas Retno.
Sejatinya asma tidak bisa disembuhkan, tetapi bisa dikontrol dengan dua jenis pengobatan. Yaitu, reliever (saat si anak terkena penyakit) atau controller (setiap saat, bahkan saat sehat). Bagi yang mengalami asma pada tahap sering atau persisten, obat controller menjadi  hal yang dianjurkan. “Efek pengobatan dilihat dalam jangka waktu 12 minggu. Kalau kondisinya sudah membaik, dosis obat akan diturunkan,” tutur Retno (len/c14/ayi)

Sumber: Jawa Pos, 15 Desember 2015

No comments:

Post a Comment