Atasi Asma
pada Anak
Asma
tergolong penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Yang dapat dilakukan adalah
mengontrolnya agar buah hati tidak sering terserang.
ASMA
merupakan gangguan
pernapasan karena inflamasi atau pembengkakan pada saluran napas. Pembengkakan
itu disertai dengan produksi lendir yang berlebihan sehingga saluran pernapasan
menyempit. Akhirnya, proses pernapasan terganggu. “Yang paling sering terdengar
adalah bunyi mengi saat anak bernapas,” ujar dr Zahrah Hikmah SpA, spesialis
anak dari RSUD dr Soetomo, Surabaya.
Penyebab asma umumnya adalah alergi.
Jika seorang anak memiliki riwayat keluarga yang terkena alergi, peluang
terkena asma bisa jadi makin besar. Karena allergen atau pemicu alergi bisa
terdapat di mana-mana, asma dapat terjadi sewaktu-waktu. Ada beberapa hal yang
dikenal sebagai allergen asma, yakni makanan, bulu hewan, atau tungau debu
rumah.
Menurut dr Retno Asih Setyoningrum SpA
(K), konsultan penyakit anak RSUD dr Soetomo, jenis allergen lain pun ada. Misalnya,
asap rokok atau asap kendaraan. Beberapa hal selain allergen yang bisa memicu
asma adalah aktivitas fisik yang berat ataupun perubahan cuaca.
Gejala awal asma pada anak-anak
umumnya ditandai dengan batuk berdahak sebagai akibat peningkatan produksi lendir.
Setelah beberapa lama, lendir kian mempersempit diameter saluran napas yang
sudah membengkak.
Dalam menangani, orang tua harus tahu
dua aspek asma. Yakni, aspek akut dan kronis. Aspek akut berkaitan dengan
intensitas atau tingkat keparahan asma yang diderita anak. Aspek kronis adalah
seberapa sering si anak menderita asma.
Aspek akut asma dikaitkan dengan
intensitas serangan asma. Pada level yang parah, anak akan mengalami sesak
hebat disertai batuk berdahak dengan intensitas berat. Suara mengi pun tergolong
parah. Jika sudah demikian, orang tua sebaiknya membawa anak ke dokter.
Aspek kronis atau keseringan mengidap asma
dibagi menjadi tiga: jarang, seing, dan persisten. Pada status jarang, asma
hanya menyerang beberapa bulan atau tahun sekali. Lalu, status sering ditandai
dengan menderita asma yang frekuensinya lebih intens. Misalnya, sebulan sekali.
“Yang persisten hampir setiap saat terkena asma,” jelas Retno.
Sejatinya asma tidak bisa disembuhkan,
tetapi bisa dikontrol dengan dua jenis pengobatan. Yaitu, reliever (saat si anak terkena penyakit) atau controller (setiap saat, bahkan saat sehat). Bagi yang mengalami
asma pada tahap sering atau persisten, obat controller
menjadi hal yang dianjurkan. “Efek
pengobatan dilihat dalam jangka waktu 12 minggu. Kalau kondisinya sudah
membaik, dosis obat akan diturunkan,” tutur Retno (len/c14/ayi)
Sumber: Jawa Pos, 15 Desember 2015
No comments:
Post a Comment